SEJARAH KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
SEJARAH KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
ARTI LAMBANG
Motif-motif
yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Indragiri Hilir mempunyai
pengertian sebagai berikut :
Sket Puri
Tujuh :
Melambangkan aspek sejarah/kebudayaan daerah Kabupaten Indragiri Hilir pada periode Melayu Tua seperiode dengan kerajaan Sriwijaya, maka di Indragiri Hilir ada sebuah Kerajaan Melayu yang bernama Keritang terkenal karena Puri Tujuh yang Gapura (Pintu Gerbang) sebanyak tujuh lapis. Dapat pula diartikan sebagai sampiran bahwa di daerah Kabupaten Indragiri Hilir mengalir tujuh buah sungai besar. Landasan Puri Tujuh yaitu Sket Perahu dengan Perigi memiliki nilai historis yaitu kebesaran Indragiri Hilir lama, juga mempunyai makna masa depan kejayaan di laut dan di sungai dengan semangat yang tidak kunjung padam.
Melambangkan aspek sejarah/kebudayaan daerah Kabupaten Indragiri Hilir pada periode Melayu Tua seperiode dengan kerajaan Sriwijaya, maka di Indragiri Hilir ada sebuah Kerajaan Melayu yang bernama Keritang terkenal karena Puri Tujuh yang Gapura (Pintu Gerbang) sebanyak tujuh lapis. Dapat pula diartikan sebagai sampiran bahwa di daerah Kabupaten Indragiri Hilir mengalir tujuh buah sungai besar. Landasan Puri Tujuh yaitu Sket Perahu dengan Perigi memiliki nilai historis yaitu kebesaran Indragiri Hilir lama, juga mempunyai makna masa depan kejayaan di laut dan di sungai dengan semangat yang tidak kunjung padam.
Warna Dasar
Hijau Daun Tua : Melambangkan
kesuburan tanah Indragiri Hilir.
Simpul Tali
65 Pintal :
1.
Melambangkan persatuan rakyat.
2. Tahun terbentuknya Kabupaten Indragiri Hilir.
2. Tahun terbentuknya Kabupaten Indragiri Hilir.
Padi dan
Kelapa :
1.
Melambangkan hasil utama daerah Kabupaten Indragiri Hilir
2. Empat belas butir padi merupakan tanggal terbentuknya Kabupaten Indragiri Hilir.
3. Enam buah bibit kelapa merupakan bulan terbentuknya Kabupaten Indragiri Hilir.
2. Empat belas butir padi merupakan tanggal terbentuknya Kabupaten Indragiri Hilir.
3. Enam buah bibit kelapa merupakan bulan terbentuknya Kabupaten Indragiri Hilir.
Gelombang
5 Lapis : Melambangkan
bahwa Indragiri Hilir adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang berfalsafah Pancasila.
PERBATASAN
Batas-Batas
Kabupaten Indragiri Hilir antara lain :
Utara :
Kabupaten Pelalawan.
Tembilahan
merupakan sebuah Ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir.
Luas wilayah
± 297,62 km².
Batas-Batas
Kota Tembilahan antara lain:
Utara : Kecamatan Batang Tuaka.
Timur : Kecamatan Kuala Indragiri dan Tanah Merah.
Selatan : Kecamatan Enok.
Barat : KecamatanTembilahan Hulu dan Batang Tuaka.
Timur : Kecamatan Kuala Indragiri dan Tanah Merah.
Selatan : Kecamatan Enok.
Barat : KecamatanTembilahan Hulu dan Batang Tuaka.
Keadaan
tanah daerah ini sebagian besar terdiri dari tanah gambut dan endapan sungai
serta rawa-rawa. Pusat Pemerintahan Wilayah Kecamatan dari permukaan laut
adalah 1 s/d 4 meter. Ditepi-tepi sungai dan muara parit-parit banyak terdapat
tumbuh-tumbuhan seperti pohon Nipah.
Penduduk
Penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa yaitu suku Banjar, suku Bugis, suku Melayu, suku Minang, suku Jawa, suku Batak serta warga negara keturunan Tionghoa. Mata pencaharian utama penduduk Kecamatan Tembilahan adalah di sektor pertanian.
Penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa yaitu suku Banjar, suku Bugis, suku Melayu, suku Minang, suku Jawa, suku Batak serta warga negara keturunan Tionghoa. Mata pencaharian utama penduduk Kecamatan Tembilahan adalah di sektor pertanian.
SEJARAH
Untuk
melihat latar belakang sejarah berdirinya Kabupaten Indragiri Hilir sebagai salah satu daerah otonom dapat ditinjau dalam
dua periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode sesudah kemerdekaan
Republik Indonesia.
Kerajaan ini
didirikan sekitar awal abad ke-6 yang berlokasi di wilayah Kecamatan
Keritang sekarang.
Seni budayanya banyak dipengaruhi oleh agama Hindu,
sebagaimana terlihat pada arsitektur bangunan istana yang terkenal dengan
sebutan Puri Tujuh (Pintu Tujuh) atau Kedaton Gunung Tujuh. Peninggalan
kerajaan ini yang masih dapat dilihat hanya berupa puing-puing.
Kerajaan
Kemuning didirikan oleh Raja Singapura ke-V, Raja Sampu atau Raja Iskandarsyah
Zulkarnain atau Prameswara. Tahun 1231 diangkat seorang raja muda yang bergelar
Datuk Setiadiraja. Letak kerajaan ini diperkirakan berada di Desa Kemuning Tua
dan Desa Kemuning Muda. Bukti peninggalan kerajaan berupa selembar besluit
dengan cap stempel kerajaan, bendera dan pedang kerajaan.
Pada tahun
1260, di daerah Indragiri Hilir bagian utara, yaitu di daerah Gaung Anak Serka, Batang Tuaka, Mandah dan Guntung dikuasai oleh raja-raja kecil bekas penguasa kerajaan
Bintan, yang karena perpecahan sebagian menyebar ke daerah
tersebut. Di antaranya terdapat Enam Batin (Kepala Suku) yang terkenal dengan
sebutan Batin Nan Enam Suku, yakni:
- Suku Raja Asal di daerah Gaung.
- Suku Raja Rubiah di daerah Gaung.
- Suku Nek Gewang di daerah Anak Serka.
- Suku Raja Mafait di daerah Guntung.
- Suku Datuk Kelambai di daerah Mandah.
- Suku Datuk Miskin di daerah Batang Tuaka.
Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri tahun 1298
dengan raja pertama bergelar Raja Merlang I
berkedudukan di Malaka. Demikian pula dengan penggantinya Raja Narasinga I dan Raja Merlang II, tetap
berkedudukan di Malaka, sedangkan untuk urusan sehari-hari
dilaksanakan oleh Datuk Patih atau Perdana Menteri. pada tahun 1473, sewaktu Raja Narasinga II yang
bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil
Alam (Sultan Indragiri IV), dia menetap di ibu kota kerajaan yang berlokasi di Pekan Tua sekarang.
Pada tahun
1815, dibawah Sultan Ibrahim, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Rengat. dalam masa pemerintahan Sultan Ibrahim ini, Belanda mulai campur tangan terhadap kerajaan dengan
mengangkat Sultan Muda yang berkedudukan di Peranap dengan batas wilayah ke Hilir sampai
dengan batas Japura.
Selanjutnya,
pada masa pemerintahan Sultan Isa, berdatanganlah orang - orang dari suku Banjar dan suku Bugis sebagai akibat kurang amannya daerah asal mereka.
Khusus untuk suku Banjar, perpindahannya akibat dihapuskannya
Kerajaan Banjar oleh Gubernement pada tahun
1859 sehingga terjadi peperangan sampai tahun 1863.
MASA PENJAJAHAN BELANDA
Pejabat
kolonial dan keluarganya di Indragiri Hilir.
Dengan
adanya tractaat Van Vrindchaap (perjanjian perdamaian dan persahabatan)
tanggal 27 September 1938 antara Kerajaan Indragiri dengan Belanda, maka Kesultanan Indragiri menjadi Zelfbestuur.
Berdasarkan ketentuan tersebut, di wilayah Indragiri Hilir ditempatkan seorang
Controlleur yang membawahi 6 daerah keamiran, yaitu:
- Amir Tembilahan di Tembilahan.
- Amir Batang Tuaka di Sungai Luar.
- Amir Tempuling di Sungai Salak.
- Amir Mandah dan Gaung di Khairiah Mandah.
- Amir Enok di Enok.
- Amir Reteh di Kotabaru.
Controlleur memegang wewenang semua jawatan,
bahkan juga menjadi hakim di pengadilan wilayah ini sehingga Zelfbestuur
Kerajaan Indragiri terus dipersempit sampai dengan masuknya Jepang tahun 1942.
MASA PENDUDUKAN JEPANG
Balatentara Jepang memasuki Indragiri Hilir pada tanggal 31 Maret 1942
melalui Singapura terus ke Rengat. Pada tanggal 2 April 1942 Jepang menerima penyerahan
tanpa syarat dari pihak Belanda yang waktu itu dibawah Controlleur K. Ehling.
Sebelum tentara Jepang mendarat untuk pertama kalinya di
daerah ini dikumandangkan lagu Indonesia Raya yang dipelopori oleh Ibnu Abbas.
Pada masa
pendudukan Jepang ini Indragiri Hilir dikepalai oleh seorang Cun Cho yang
berkedudukan di Tembilahan dengan membawahi 5 Ku Cho, yaitu:
- Ku Cho Tembilahan dan Tempuling di Tembilahan.
- Ku Cho Sungai Luar.
- Ku Cho Enok.
- Ku Cho Reteh.
- Ku Cho Mandah.
2. 2. PERIODE SETELAH KEMERDEKAAN
INDONESIA
Pada awal
kemerdekaan Indonesia, Indragiri (Hulu dan
Hilir) masih merupakan satu kabupaten. Kabupaten Indragiri ini terdiri atas 3 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Kuantan Singingi dengan ibu kotanya Teluk Kuantan, Kewedanaan Indragiri Hulu dengan ibu kotanya Rengat dan Kewedanaan Indragiri Hilir dengan ibu kotanya
Tembilahan.
Kewedanaan
Indragiri Hilir membawahi 6 wilayah yaitu:
- Wilayah Tempuling/Tembilahan.
- Wilayah Enok.
- Wilayah Gaung Anak Serka.
- Wilayah Mandah/Kateman.
- Wilayah Kuala Indragiri.
- Wilayah Reteh
Perkembangan
tata pemerintahan selanjutnya, menjadikan Indragiri Hilir dipecah menjadi dua
kewedanaan masing-masing:
Kewedanaan Indragiri Hilir
Utara. Ibu kotanya
berada di Tembilahan, terbagi atas :
- Kecamatan Tempuling.
- Kecamatan Tembilahan.
- Kecamatan Gaung Anak Serka.
- Kecamatan Mandah.
- Kecamatan Kateman.
- Kecamatan Kuala Indragiri.
Kewedanaan Indragiri Hilir
Selatan. Ibu kotanya
berada di Enok, terbagi atas :
- Kecamatan Enok.
- Kecamatan Reteh.
Pemekaran Kabupaten
Indragiri
Merasa
persyaratan administrasinya terpenuhi maka masyarakat Indragiri Hilir memohon
kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Riau, agar Indragiri
Hilir dimekarkan menjadi kabupaten Daerah Tingkat II yang berdiri sendiri (otonom).
Setelah
melalui penelitian, baik oleh Gubernur maupun Departemen Dalam Negeri, maka
pemekaran diawali dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Tingkat I Riau (Provinsi Riau) tanggal 27 April 1965 nomor
052/5/1965 sebagai Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir.
Pada tanggal
14 Juni 1965 dikeluarkanlah Undang-undang nomor 6 tahun 1965 Lembaran Negara
Republik Indonesia no. 49, maka Daerah Persiapan
Kabupaten Indragiri Hilir resmi dimekarkan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II
Indragiri Hilir (sekarang Kabupaten Indragiri Hilir) yang berdiri sendiri, yang
pelaksanaannya terhitung tanggal 20 November 1965.
DAFTAR KECAMATAN
- Batang Tuaka
- Concong
- Enok
- Gaung
- Gaung Anak Serka
- Kateman
- Kempas
- Kemuning
- Keritang
- Kuala Indragiri
- Mandah
- Pelangiran
- Pulau Burung
- Reteh
- Sungai Batang
- Tanah Merah
- Teluk Balengkong
- Tembilahan
- Tembilahan Hulu
- Tempuling
POTENSI DAERAH
PENDIDIKAN
Kabupaten
ini memiliki lembaga pendidikan tinggi diantaranya Sekolah Tinggi Agama Islam
Auliaurrasyidin Tembilahan, Universitas Islam Indragiri, dan Akbid Puri Husada
Tembilahan.
PERTANIAN
Dengan
potensi sumber daya alam yang berlimpah dan letak geografis yang sangat
strategis, Indragiri Hilir terus memacu diri mengembangkan kawasannya menjadi
salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Riau dan pusat
pertumbuhan kebudayaan ekonomi Riau dan Pusat
kebudayaan Melayu di Asia Tenggara.
Sebagai
Kabupaten tumbuh dan berkembang pada gerbang selatan provinsi Riau yang
bersebelah dan menjadi hinderland Malaysia dan Singapura, serta selangkah dari pusat pertumbuhan Batam dan Bintan, masuknya investor. Potensi sumber daya alam
Indragiri Hilir harus dikelola industri-industri hilir yang bermanfaat bagi
daerah dan masyarakat. Untuk itu pemerintah Kabupaten harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur guna
memudahkan hadirnya para investor lokal, regional bahkan intenasional.
Pemerintah
Indragiri Hilir akan memberikan pelayanan terbaik yang diperlukan oleh calon
penanam modal itu. Salah satu diantaranya adalah memberikan pelayanan terpadu
satu pintu yang di kenal sebagai One Door Service. Dengan One Door
Service calon investor akan mendapat pelayanan memuaskan, sejak dari informasi
peluang bisnis. Sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam serta menyimpan
berbagai potensi ekonomi, Indragiri Hilir menjanjikan banyak kemungkinan pada
masa depan. Didukung letak geografis yang strategis serta ditunjang tersedianya
berbagai infrastruktur dan kebijakan pemerintah yang positif daerah ini
merupakan lahan investasi yang layak diperhitungkan dalam era ekonomi global.
Untuk
menunjang percepatan pertumbuhan ekonomi dan mempermudah investasi, pemerintah
daerah telah membangun berbagai infrastruktur terutama yang berkaitan dengan
sektor pertanian.
Potensi
lahan basah (pasang surut) untuk persawahan di Kabupaten Indragiri Hilir seluas
± 57.642 ha, yang belum dimanfaatkan seluas ± 23.965 ha dan yang sudah
dimanfaatkan seluas ± 33.677 ha. Dengan produksi padi 127.369,48 GKG. Untuk
potensi pengembangan lahan kering seluas ± 169.000 ha, yang belum dimanfaatkan
seluas ± 84.648 ha dan yang telah dimanfaatkan
seluas ±
74.136 ha, dipergunakan untuk pengembangan palawija dengan luas areal ± 13.476 ha,
dengan produksi 1.448 ton dan buah-buahan dengan luas ± 1.247 ha, dengan
produksi 27.958,04 ton, sayur-sayuran dengan luas ± 1.247 ha, dengan produksi
1.448 ton dan buah-buahan dengan luas ± 5.320,80 ha, dengan produksi 82.105,38
ton.
PERKEBUNAN
Kebun Kelapa
identik dengan Indragiri Hilir dan Indragiri Hilir adalah sentra kebun kelapa
paling luas di Indonesia, menjadi hamparan kebun kelapa
dunia. Di sini pohon-pohon kelapa tumbuh dengan suburnya dari lahan-lahan yang
semula hutan rawa-rawa.
Sebagai
negara pemilik kebun kelapa terluas di dunia, Indonesia mempunyai perkebunan seluas 3,7 juta hektar yang
tersebar di kepulauan kelapa. Wilayah Kateman atau yang
lebih di kenal dengan sebagai Sungai Guntung adalah Kecamatan yang memiliki kebun kelapa paling luas disana.
Kebun-kebun ini adalah milik PT. Pulau Sambu, sebuah
perusahaan agrobisnis yang memiliki kebun sekaligus
pabrik minyak kelapa di Indragiri Hilir.
Kebun kelapa
disana dikelola secara profesional. Hamparan kebun itu bukan hanya subur,
produktif dan dihandalkan, tetapi juga indah mengasyikan. Kebun Kelapa Guntung sudah menjadi objek wisata atau agrowisata yang luar biasa. Dan inilah kebun kelapa raksasa dan
daya tarik wisata yang tiada tara. Kabarnya disekitar pantai akan dibuat badan
jalan, sepanjang tepi kanal dan tanggul akan dapat dilalui kendaraan.
yang kedua
adalah perkebunan kelapa sawit, indonesia merupakan penghasil minyak kelapa
sawit terbesar di dunia sebagian besar kelapa sawit indonesia berasal dari
perkebunan di indragiri hilir, karena semakin murahnya harga kelapa (biasa) di
indragiri hilir petani kelapa di inhil banyak yang beralih menjadi petani
kelapa sawit hasilnya inhil sekarang menjadi daerah yang terkenal dengan
kelapasa sawitnya
Panjang
kanal disambung-sambung akan mencapai 32.000 kilometer Luar biasa! itulah
potret sekilas Negeri Sejuta Kelapa di Negeri Seribu Parit ini.
Selain
kelapa sebagai hasil bumi kabupaten ini, kelapas sawit juga menjadi sumber daya
alam terdapat banyak di barat kabupaten ini seperti di kecamatan tempuling,
enok, kempas jaya dan teluk kiambang salag satu desa penghasil sawit terbesar
di kabupaten ini.
PETERNAKAN
Potensi
lahan yang dapat dikembangkan untuk usaha ternak pada sub sektor peternakan
seluas ± 225.863 ha, dengan daya tampung ± 902.452 ekor dipergunakan untuk
ternak besar (sapi). Adapun jumlah ternak besar saat ini ± 11.678 ekor dan
ternak kecil (kambing dan domba) ± 30.862 ekor, sedangkan untuk kebutuhan
daging di Kabupaten Indragiri Hilir ± 2.995.744 ton dan kebutuhan telur ±
1.671.054 kg.
Yang mampu
dihasilkan usaha peternakan untuk daging ± 45% dan untuk telur ± 35.31%, maka
peluang potensi pengembangan pasar lokal untuk daging dan telur sangat cukup
terbuka.
PERIKANAN
Program
kerja pembangunan perikanan di Kabupaten Indragiri Hilir telah mengacu pada 4
(empat) usaha pokok, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi, serta terus meningkatkan peranan perusahaan swasta
dalam dunia perikanan dalam rangka pemerataan dan peningkatan pendapatan
nelayan/petani ikan melalui peningkatan produksi dan produktifitas usaha,
memenuhi kebutuhan konsumen ikan dalam negeri, penyediaan bahan baku industri dan
peningkatan ekspor. Disamping itu sekaligus dapat diarahkan untuk pemerataan
kesempatan berusaha serta penyerapan tenaga kerja dengan tetap menjaga sumber
daya dan lingkungan hidup perairan.
Mengacu
kepada tujuanpembangunan perikanan Riau dengan
memperhatikan kondisi dan potensi perikanan didaerah ini, maka program kerja
pembangunan perikanan Indragiri Hilir dirumuskan sebagai berikut:
- Peningkatan produksi dan produktifitas nelayan serta pengembangan usaha budidaya pertambakan dalam rangka peningkatan pendapatan.
- Peningkatan institusi pemasaran dan pemerataan distribusi perikanan untuk mempermudah suplai ikan bagi masyarakat yang bermukim di pedalaman.
- Peningkatan ekspor sekaligus menekan impor komoditas perikanan.
- Pemanfataan seefesien mungkin serta pemeliharaan kelestarian sumber daya dan lingkungan perairan.
- Meningkatkan peranan sub sektor perikanan dalam kegiatan dan pembangunan pedesaan terutama dalam hal menciptakan peluang bekerja dan berusaha.
Evaluasi
pelaksanaan tugas sub sektor perikanan Indragiri Hilir disusun berdasarkan
realisasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Perikanan Indragiri Hilir serta
kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh nelayan/petani ikan di daerah ini
sehingga akan tergambarpencapaian sasaran target berdasarkan yang telah
diprogramkan.
Luas lahan
potensial untuk usaha pengembangan budidaya air payau (tambak) sekitar 13.000
hektare, sedangkan untuk budidaya air tawar (kolam) sekitar 1.657 Ha. Jumlah
penduduk yang berusaha di bidang perikanan baik secara langsung maupun tidak
langsung/sambilan.
PERTAMBANGAN
